Showing posts with label usaha percetakan. Show all posts
Showing posts with label usaha percetakan. Show all posts

Standar Cetak; Siapakah Yang Beruntung?

Standar cetak kadang menjadi kontroversi bagi sebagian pelaku industri percetakan, karena tidak dilihat secara menyeluruh dari aspek industri cetak. Namun yang pasti standard cetak saat ini sudah menjadi tren industri cetak dan kebutuhan bagi para pelaku cetak, terlebih printing product sudah menjadi suatu barang komoditi dalam artian diproduksi masal - karena jumlah besar dan dimultiplikasi secara konsisten.


Pertama, standar cetak membuat printing quality menjadi hal yang tidak penting atau kritis lagi, sebab semua orang atau pihak dapat membuat atau mengkopinya dengan gampang. Kedua, yang pada akhirnya standar cetak menghilangkan aspek unik suatu bisnis percetakan terhadap para pesaing lainnya.

Dunia cetak sudah lama bergerak dari seni menjadi industri, dengan kata lain tidaklah relevan lagi mendebat bahwa standar cetak menggiring barang cetak menjadi komoditi.

Standar cetak pada kenyataannya tidak membuat seluruh aspek percetak menjadi standar. Secara praktis standar cetak berfokus pada hal yang pokok atas kualitas, dibuat penetapan standar warna atau tinta, sementara tetap membuka peluang inovasi dalam aspek seperti printing desain, "linescreen", dan lain sebagainya.

Kenyataan dilapangan andaikan semua jasa percetakan mempunyai kesempatan yang sama untuk mencetak suatu barang cetak yang standar, namun hanya seglintir percetakan - papan atas - saja yang mampu, yaitu mereka yang mumpuni dalam mengontrol keseluruhan printing process dan secara konsisten mencetak terus menerus sesuai standar dari waktu ke waktu.

Standar cetak hanya berfokus pada kualitas, suatu perusahaan percetakan dinilai lebih atau unggul dari para pesaing lebih banyak karena pelayanan, kecepatan dan ketepatan menyelesaikan proyek dan seberapa andal memecahkan masalah atau komplain yang muncul.



Justru para printing company harus dapat memaksimalkan sisi positif yang diusung oleh standar. Sudah umum pembeli barag cetak tidak bisa mengandalkan satu usaha percetakan saja, bisa karena masalah lokasi, luasnya area penyebaran barang cetakan yang harus disebar, keterbatasan kapasitas suatu percetakan, atau bahkan mengurangi ketergantungan terhadap satu percetakan.

Pembeli barang cetak seperti perusahaan iklan harus memikirkan material cetak dapat selesai saat kampanye promosi suati produk dimulai, karena kalau terjadi keterlambatan maka program iklan menjadi macet dan terganggu. Ujungnya unjuk kerja manager promosi bisa buruk dan karirnya tidak maju. Manajer promosi di Singapura harus mengontrol anggaran biaya promosi, kalau mencetak di Singapura dan harus dikirim ke Indonesia untuk program promosi di Indonesia pastilah tidak efisien.


Keuntungan buat pembeli barang cetak
Ada beberapa hal yang membuat anda para "print buyer" menjadi nyaman dan maksimal dalam bekerja;

(1) Mempunyai pegangan yang konkrit, efektif dan netral dalam proses "file preparation" dan "in-house proofing"; jelas, tidak ada faktor suka dan tidak suka.

(2) Menerima "proof" dari percetakan sesuai dengan yang diinginkan, semua faktor warna misalnya sudah baku; tidak ada lagi faktor kejutan ternyata hasil akhir cetakan berbeda.

(3) Mengurangi proses "proofing" yang sering harus bolak-balik dan mempercepat proses persetujuan naik cetak.

(4) Menselaraskan aspek-aspek yang diinginkan atau diharapkan dengan pihak percetakan. Hal ini layaknya kita naik taxi, saat duduk dalam mobil kita memberi tujuan tempat dan kadang kala juga jalan yang akan dilalui ke sopir taxi, kalau tidak - maka sopir taxi akan mutar-mutar tidak keruan, atau sampai ketujuan namun sudah telat waktu.


Keuntungan buat percetakan
Percetakan pada saat yang bersamaan meraih hal-hal positif yang sama seperti halnya pembeli barang cetak. Berkerja dengan pelanggan yang puas dengan "proof" dan tahu atas apa yang diinginkan pastilah suatu yang menyenangkan, sebab mengurangi rasa was-was dan khawatir bila produk cetaknya ditolak dan tidak dibayar.

Beberapa standar cetak
Ada beberapa standar cetak yang umum ditemui saat ini di industri yang dapat dipecah dalam 3 kategori barang cetak;

1. Newsprint - cetak koran
Ada dua standar yaitu ISO 12647-3 dan SNAP

2. Publication - majalah dan publikasi
Ada dua standar cetak yaitu ISO 12647-2 dan SWOP

3. Commercial - brosur, promosi dll
Ada 2 standar cetak yaitu ISO 12647-2 dan GRACoL.

Usaha Digital Printing

Ingin memiliki usaha percetakan serba ada atau one stop shopping printing seperti Snappy, Subur dll? Coba anda simak baik-baik masukan berikut ini, yang merupakan rangkuman disukusi dan sharing pengalaman beberapa anggota Milis Dunia Wirausaha minggu lalu mengenai usaha digital printing, fotocopy, design grafis, warnet juga rental komputer.

Tentukan target konsumen

Misalnya:

Untuk orang-orang yang butuh jasa percetakan cepat spt undangan, kartu nama, presentasi, brosur, dll. Tentunya harus instant alias bisa ditunggu karena menggunakan digital printing yg meniadakan proses konvensional yg lama. Hal ini membutuhkan modal yang cukup besar karena mesin digital printing seperti punya Snapy terhitung ratusan juta. Mungkin bisa pula menekan biaya melalui leasing atau kredit ke bank untuk pembelian printer, komputer, dll.

Salah seorang anggota Milis DW menceritakan pengalamannya membuka usaha percetakan dan usaha penerbitan yang dimulai dari menerima settingan dulu, sebelum menjalar ke proses lainnya alias tidak langsung membuka usaha dengan skala besar.

Secara umum, modal yang besar tentunya akan mempermudah melakukan usaha bisnis percetakan. Namun, bukan berarti modal kecil akan menghambat usaha. Bisa dimulai dari networking terlebih dulu sambil mencari investor, customer product, partner, dan supplier yang menginginkan order cetakan.

Dengan modal awal Rp. 10jt untuk membuka usaha digital printing, maka akan diperlukan beberapa hal berikut:

1 komputer P4 dengan spesifikasi grafis ( beli second lebih murah ) Rp. 4jt

1 printer laser untuk bikin film sablon Rp. 1jt

1 scanner Rp. 500rb

1 printer inkjet (merek terserah cari ukuran A4 utk awal, tapi cari refill tinta yang berkualitas, untuk menghindari catridge sering rusak karena kualitas tinta yang jelek ) Rp. 500rb


Sisanya untuk sewa tempat, pengadaan kertas dan sedikit promosi untuk order percetakan.

“Benchmarking” terhadap Efisiensi dan Tingkat Keuntungan Cetak

Ada baiknya kita mengintip bagaimana industri kertas meningkatkan efisiensi dan profit usaha percetakan murah. Industri kertas untuk bisa bertahan dan profit dalam jangka panjang, yang berujung pada kemampuan menekan biaya produksi adalah mutlak. Falsafahnya bila anda mempunyai biaya produksi $500/ton maka tidak akan mungkin berkompetisi sehat dan menguntungkan dengan pabrik lain yang biaya produksinya hanya $350/ton. Hal ini dilakukan terlebih dahulu dengan melakukan benchmarking,penawaran kerjasama atau pengukuran prestasi suatu mesin dan pabrik yang dibandingkan dengan mesin dan pabrik lainnya dan bahkan terhadap standar industri usaha percetakan.

Dengan kompetisi global maka perlu diukur seberapa efisien suatu pabrik terhadap standar internasional. Bila kemudian dilihat mesin yang ada tidak mungkin melakukan kompetisi - dengan asumsi biaya lainnya seperti pengiriman, bahan baku, keuangan telah dikeluarkan nilainya - maka perlu dilakukan pembelian mesin baru yang lebih besar, lebih cepat dan efisien dengan produktifitas tinggi.

Sebagai perbandingan 20 tahun lalu lebar mesin yang dulunya mungkin hanya 2 meter sekarang ini mendekati 10 meter, kecepatan yang dulunya sekitar 400 meter per menit menjadi paling tidak 2000 meter per menit (benar ! dalam 1 menit keluar 2000 meter kertas dengan lebar 10 meter) Mesin lama dan tua sudah pasti mempunyai biaya/ton jauh lebih tinggi dibanding dengan mesin baru dan modern.

Rekomendasi Efisiensi

Dari berbagai ragam rekomendasi dalam mencapai efisiensi dan tingkat keuntungan yang tinggi di usaha penerbitan, anda mungkin juga sering mendengar beberapa diantaranya yang kurang lebih hampir sama di industri kertas.

1. Beli mesin baru dan lebih cepat agar order cetakan meningkat
2. Beri gaji karyawan lebih tinggi
3. Kurangi gaji karwayan yang prestasi kerjanya buruk
4. Pelatihan karyawan supaya cepat menguasai percetakan buku dan kardus box
5. Benchmark prestasi kerja

Mari kita evaluasi satu persatu atau bersama-sama rekomendasi diatas, mana yang menuai sukses dan mana yang sia-sia untuk menjalankan bisnis percetakan. Untuk rekomendasi pertama sengaja disebut baru dan cepat bukan besar dan cepat. Tergantung apa segmen usaha cetak anda, bila usaha cetak cepat dengan turnaround yang tinggi dan jumlah cetak kecil maka anda perlu mencari mesin yang sesuai. Membeli mesin yang besar dan cepat mungkin akan salah kaprah, dimana mesin ini lebih cocok untuk usaha jasa percetakan yang komoditi seperti majalah atau buku-buku

GRAPHIC DESIGN dan BISNIS PERCETAKAN

Mendedikasikan diri pada segi praktis, implementasi dan pengembangan DESIGN, khususnya GRAPHIC DESIGN dan aplikasinya pada (PERCETAKAN!), serta WEBSITE DESIGN sebagai sarana promosi. Berbagai Artikel Praktis Graphic Design dan relevansinya pada BISNIS PERCETAKAN dikupas tuntas! Ini berdasarkan pengalaman nyata yang saya share kepada Anda. Agar lebih komunikatif & interaktif, dengan berbangga hati kami menerima kontribusi pengalaman nyata dari Anda sekalian: Graphic Designer mania, Art Director, Media Planners, praktisi Percetakan, Marketer/Account Executive dan para pihak yang berkompeten dibidangnya....

Saya pribadi, sebagai praktisi desain grafis dan percetakan, telah memutuskan untuk mengendalikan semua kegiatan bisnis usaha penerbitan ini dari rumah. Alhasil saya bisa lebih berkonsentrasi menggarap proyek-proyek (heavyweight design, order cetakan, website development, dsb) yang dipercayakan customer loyal saya dengan lebih fokus dan terarah. Waktu untuk keluarga pun lebih banyak tercurah untuk mereka.

Disamping bisnis usaha percetakan inti tersebut diatas, saya telah lama memberlakukan dan mempraktekkan pola kerjasama BAGI-BAGI KOMISI / UNTUNG BESAR ORDER CETAKAN, yakni suatu pola kerjasama yang saling menguntungkan :

Bila Anda mempunyai / mendapat order cetakan, dan ingin belajar seluk-beluk BISNIS PERCETAKAN BUKU sambil memperoleh penghasilan yang lumayan besar, dengan komisi bagi hasil antara 40-50%.

Bila Anda punya order percetakan, tapi gak mau repot-repot dengan pernak-pernik cetakan, Anda tetap mendapat bagian komisi yang lumayan besar juga!

Bila Anda ingin memesan barang cetakan, mau terima beres saja (barang sudah jadi dan diantar ke tempat Anda), kami menawarkan harga yang amat rasional dan ekonomis.